Sedekah Bumi Telaga Ngebel: Merawat Warisan Leluhur, Membumbungkan Doa pada Ilahi
- Jun 15, 2026
- admindesa
Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Larungan di Telaga Ngebel pada 1 Suro
Tradisi Larungan (atau yang kini sering disebut secara resmi sebagai Larungan Risalah Doa) di Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, merupakan salah satu puncak dari rangkaian perayaan Grebeg Suro. Ritual ini digelar setiap tanggal 1 Suro (1 Muharram dalam kalender Hijriah). Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar tontonan budaya, melainkan sebuah ritual sakral yang mempertemukan sejarah, mitologi, ekspresi rasa syukur, dan kearifan lokal.
Berikut adalah sejarah, asal-usul, hingga makna lengkap di balik tradisi Larungan Telaga Ngebel:
1. Asal-Usul Legenda: Baru Klinting dan Nyai Latung
Sejarah pelaksanaan larungan ini tidak dapat dipisahkan dari legenda terbentuknya Telaga Ngebel yang sangat melegenda di kalangan masyarakat Ponorogo, yaitu kisah Baru Klinting.
- Jelmaan Naga Berwujud Anak Kecil: Konon, seekor naga raksasa bernama Baru Klinting bertapa di lereng Gunung Wilis. Tubuhnya yang melingkari gunung tidak sengaja ditemukan oleh warga desa setempat yang sedang berburu. Tanpa tahu bahwa itu naga sakti, warga memotong-motong daging naga tersebut untuk dibawa pulang sebagai hidangan pesta.
- Pengemis yang Ditolak: Roh Baru Klinting kemudian menjelma menjadi seorang anak kecil yang penuh luka, kudisan, dan berbau anyir. Ia mendatangi pesta warga desa untuk meminta makan, namun seluruh warga menolak, mencaci-maki, dan mengusirnya karena merasa jijik.
- Kebaikan Nyai Latung: Di tengah penolakan itu, hanya ada satu orang yang memperlakukannya dengan baik, yaitu seorang janda tua bernama Nyai Latung. Nyai Latung memberikan anak tersebut makan dan memperlakukannya dengan tulus. Sebagai rasa terima kasih, anak itu berpesan kepada Nyai Latung: "Jika nanti mendengar suara gemuruh, segeralah naik ke atas lesung (alat penumbuk padi) bawa serta centong kayu."
- Sayembara Lidi dan Terbentuknya Telaga: Anak itu kembali ke tengah pesta desa dan menantang warga untuk mencabut sebatang lidi yang ia tancapkan ke tanah. Tidak ada satu pun warga yang mampu mencabutnya. Ketika anak itu sendiri yang mencabut lidi tersebut, seketika memancarlah air yang sangat deras dari bekas tancapan lidi hingga menenggelamkan seluruh desa beserta warganya yang angkuh. Hanya Nyai Latung yang selamat karena naik di atas lesung kayu. Air bah luapan tersebutlah yang kini menjadi danau alami bernama Telaga Ngebel.
2. Sejarah Lahirnya Tradisi Larungan
Setelah desa tersebut tenggelam menjadi telaga, masyarakat yang kemudian mendiami sekitar wilayah kaki Gunung Wilis ini menganggap Telaga Ngebel sebagai tempat yang wingit (angker dan sakral).
Pada masa lampau, telaga ini kerap memakan korban jiwa (tenggelam). Muncul sebuah mitos atau kepercayaan lokal bahwa "penunggu" gaib telaga (yang sering dikaitkan dengan sosok naga Baru Klinting) akan meminta tumbal jika tidak dihormati.
Untuk menghindari marabahaya, bencana alam (seperti tanah longsor dan banjir), serta sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur (Nyai Latung), sesepuh adat dan warga Ngebel bersepakat mengadakan upacara Larung Sesaji setiap menyambut tahun baru Jawa (1 Suro). Seiring berjalannya waktu, ritual mistis penolak bala ini bergeser maknanya secara positif menjadi ungkapan rasa syukur kolektif atas limpahan rezeki, kesuburan tanah, dan air yang diberikan Tuhan melalui Telaga Ngebel.
3. Prosesi dan Ubarampe (Perlengkapan) Larungan
Prosesi Larungan dilakukan melalui tahapan spiritual dan budaya yang runtut:
- Tirakatan Malam 1 Suro: Pada malam hari sebelum pelarungan, para sesepuh adat berkumpul untuk melakukan tirakatan, membaca doa-doa keselamatan, serta menyalakan ribuan obor dan dian (lampu minyak bensin) di sepanjang dermaga telaga. Ponorogo
- Buceng Purak (Gunungan Hasil Bumi): Warga membuat tumpeng raksasa (buceng) yang berisi aneka hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, polo pendhem (singkong, kacang, dll), serta nasi golong. Buceng ini nantinya akan diperebutkan oleh warga setelah didoakan, sebagai simbol keberkahan.
- Buceng Pangruwat (Yang Dilarung): Ini adalah tumpeng utama yang diarak menuju dermaga. Unsur utama yang dilarung di antaranya adalah kepala atau darah Kambing Kendhit (kambing berbulu hitam dengan corak putih melingkar di perutnya). Melarungkan komponen ini disimbolkan oleh masyarakat sebagai upaya membuang hawa nafsu kebinatangan dan membersihkan jiwa manusia.
- Prosesi Pelarungan: Dengan menggunakan rakit atau perahu, buceng pangruwat tersebut dibawa oleh petugas atau sesepuh yang mahir berenang menuju ke tengah-tengah Telaga Ngebel, lalu ditenggelamkan/dihanyutkan.
4. Evolusi Nama: Dari "Larung Sesajen" hingga "Risalah Doa"
Di era modern, tradisi ini sempat mengalami hambatan dan perdebatan antara kaum budayawan dan kalangan agamawan yang menilai ritual pelarungan makanan ke danau menjurus pada hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat Islam.
Pemerintah Daerah Ponorogo bersama tokoh masyarakat kemudian mengambil jalan tengah berupa akulturasi budaya (modifikasi).
- Namanya diubah dari Larung Sesajen menjadi Larungan Risalah Doa.
- Prosesi puji-pujian dan mantra Jawa kuno kini dikombinasikan erat dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, shalawat nabi (shalawat gembrungan), serta tulisan doa-doa keselamatan dalam bahasa Arab.
Langkah bijak ini berhasil menyatukan sudut pandang agama dan budaya. Elemen pelarungan tetap dipertahankan sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur dan daya tarik wisata, namun dengan niat dan esensi yang murni diarahkan sebagai sedekah bumi dan doa bersama kepada Allah SWT agar masyarakat Ponorogo senantiasa diberikan kedamaian, keselamatan, serta kemakmuran.