"Ngukir" Rezeki di Lumpur Sawah: Semangat Tandur Kambeng, Menanam Harapan di Tengah Musim Hujan

  • Nov 05, 2025
  • admindesa

Ponorogo, 5 November 2025 – Hujan yang mulai intens di awal musim disambut sukacita oleh warga Desa Kambeng, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Saat ini, desa tersebut telah memasuki Musim Tandur (musim tanam padi) utama, sebuah ritual pertanian yang penuh makna.

Meskipun harus berkutat dengan lumpur sawah di tengah guyuran musim hujan, puluhan warga, didominasi oleh ibu-ibu tani, terlihat bahu-membahu menanam bibit padi. Proses tandur, yang secara tradisional dilakukan dengan berjalan mundur, memiliki filosofi mendalam: mengajarkan pentingnya menghargai masa lalu (jejak yang sudah dilalui) sambil tetap fokus pada masa depan (bibit yang ditanam).

Menurut tradisi Jawa, musim tanam yang mengandalkan curah hujan yang melimpah ini dikenal sebagai Musim Tanam Utama (Rendeng). Sebelum atau selama tandur, beberapa desa di Jawa masih melestarikan tradisi Selamatan Tandur atau Tingkep Tandur, berupa doa bersama di pematang sawah. Tujuannya adalah memohon keselamatan agar tanaman tumbuh subur, terhindar dari hama, dan menghasilkan panen yang melimpah.

Kini, di setiap bilah bibit yang ditancapkan ke sawah Kambeng, tersimpan harapan besar akan panen raya yang akan datang. Semangat gotong royong dan ketekunan yang tercermin dalam setiap langkah tandur ini merupakan simbol ketahanan pangan dan kearifan lokal yang tak pernah pudar.